Danau Toba Surut 2-3 Meter, Bisa Berdampak Buruk Kepada PLTA dan Pemilik Kerambah Jala Apung

Simalungun2851 Dilihat

●Pemkab Seputar Danau Toba Harus Antispasi Penimbunan Bibir Danau

Gorgajenius.id
■SUMUT

Danau Toba semakin surut, dan hingga kini diperkirakan mencapai ±3 meter seperti pantauan kita dari pantai KHAS Parapat Hotel, Kabupaten Simalungun, Kamis (30 Juli 2026).

Hal ini bisa berdampak signifikan bagi perusahaan yang mengandalkan debit air Danau Toba seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Siguragura, dan lainnya termasuk berdampak kepada pemilik ribuan Kerambah Jala Apung milik masyarakat di kawasan Danau Toba, karena dimungkinkan limbah-limbahnya akan menimbulkan perubahan struktur air di dasar danau area KJA mereka.

Hanya saja berdasarkan sumber penyebab utama karena musim kemarau panjang ditambah Fenomena Iklim yang berfariasi.

Seperti diketahui bahwa BMKG memprediksi 2026 ada El Nino + Indian Ocean Dipole fase positif bersamaan.

Kombinasi ini bisa saja membuat musim kering berkepanjangan di Indonesia termasuk kawasan Danau Toba, di wilayah Sumatera Utara (Sumut).

Faktor lain juga akibat curah hujan yang minim apalagi intensitas anak sungai ke Danau Toba sebahagian besar dengan kondisi tertutup yang sangat tergantung dari ratusan anak sungai. Kalau hulu kering, debit air ke danau toba tentu juga berkurang.

Tak bisa dipungkiri akibat dari kerusakan hulu dan akibat tirak terawatnya lagi hutan dan kayu disekitar Daerah Aliran Sungai akibat perambahan hutan dan pembalakan liar di kawasan hulu Danau Toba membuat fungsi hidrologinya rusak sehingga tanah penyangga tidak bisa menyimpan air hujan, sungai-sungai yang mrngarah ke danau jadi kering kerontang.

Jadi dampak surutbya Danau Toba sangat jelas, sebab disaat surut membuat air makin dangkal dan saat angin kencang, sedimen plus gas beracun H2S dari dasar danau naik dan busa saja mrnyembapkan gerombolan ikan mati massal.

Kita paham dimana PLTA Asahan memiliki batas operasional turbin 902,4 – 905,5 mdpl. Kalau terus surut, pasokan listrik Sumut juga akan semakin terancam.

Lalu, efek dominonya terhadap Transportasi dan Pariwisata Danau Toba kita, sudah pasti Dermaga akan semakin susah disandari kapal, karena bibir pantai kita semakin surut.

Adapun beragam upaya yang akan dilakukan, oleh pihak berkompeten terlrbih kepada pihak BMKG baiknya mrlakukan operasi modifikasi cuaca guna menambah curah hujan, tampa menimbulkan efek samping seperti yabg dicuragai selama ini justru menimbulkan penyakit flu, batuk dan pusing-pusing, walau tak sefatal yang dibayangkan. Tetapi ngeri-ngerisedap juga apalagi curah hujannya berlebihan, bisa pula menimbulkan masalah baru seperti bahaya banjir, longsor dan banjir bandang.

● Antispasi Penimbunan Bibir Danau Toba

Kendati beragam aturan dan peraturan diterbitkan dan dilaksanakan sebagai patron larangan mrmbangun baik 50 s/d100 meter dari sempadan Danau, toh juga aturan itu dubuat untuk dilanggar oleh oknum-oknum tertentu dan bisa diselesaikan dengan cara “kerjasama tertentu”.

Maka untuk itu, Pemerintah Kabupaten seputar Danau Toba, agar tetap menjaga sekaligus mengawasi secara terus-menerus supaya tangan-tangan nakal tidak memanfaatkan situasi dan kondisi alam ini untuk menimbun dan menambah bangunan di Tepian Danau Toba yang sudah surut.

•JESSIHOTANG.