GORGAJENIUS.id
■SIMALUNGUN
Proyek yang dikerjakan PT. WIKA ini menurut Urupan Sitanggang, salah seorang pelaku Wisata dan berkecimpung di Dermaga Wiasata Atsari Parapat, kepada awak media, Kamis (25 April 2024) menyampaikan keluhannya.

Urupan justru mengklaim bangunan PT WIKA ini merugikan Wisatawan dan para pelaku usaha bisnis pariwisata. Selain tembok-tembok pembatas ini terlalu tinggi dan menghalangi pemandangan ke Danau Toba, berbeda jauh sekali dengan roll model pembangunan yang di WFC Pangururan Kabupaten Samosir dan lokasi Sirkuit F1H2O di Balige Kabupaten Toba.

Di dua daerah yang sama-sama mengandalkan keindahan dan keunikan Danau Toba itu, tampak lebih indah tanpa tembok-tembok pembatas dan penghalang pemandangan.
Nah, di Dermaga Wisata Atsari Parapat mirip ‘TEMBOK BERLIN’ dan tembok penahan serangan disaat Perang. Bagaimana tidak, selain berlapis tiga, kawasan Dermaga Atsari memiliki jalan satu arah, yang lewat (lintas hotel Atsari Parapat).

Bagaimana mungkin di jalan ini bisa menurunkan penumpang, karena jalan sempit, dan bekas tiang pengaman seng saat proyek dikerjakan kala itu, banyak yang nongol diaspal.
Lalu jalan ini difasilitasi trotoar, sementara lokasi Parkir tidak ada.

Selanjutnya, jarang wisatawan yang mangkal dan mau naik kapal dari Dermaga Atsari Parapat, karena tidak kelihatan dari jalan lintas, akibar ‘Tembok Pembatas’ buatan PT. WIKA itu.
Untuk itu menurut Urupan Sitanggang, supaya kementerian dan pihak terkait merubuhkan 3 Tembok berlapis itu, agar wisatawan dapat mengetahui lokasi Dermaga dibawah.
“Seandainya ada kejadian dibawah sana, di halte dermaga bawah, takkan ada yang tau, karena posisinya tidak kelihatan dari atas’, Ujar Urupan.
Warga lainnya, bermarga Sigiro juga menyampaikan hal yang sama, sejumlah bangunan kios dibawah sana tidak ada yang menempati dan mubajir, selain karena kecil-kecil, juga tak berfungsi sebagaimana mestinya termasuk kamar toilet, tidak terawat lagi.

Parahnya lagi menurut Sigiro, banyak tamu (wisatawan) yang menanya bentuk enam bangunan beratap mirip Rumah Batak, di kawasan Bangunan Dermaga, dikira Homestay, rupanya atap jalan menuju ke bawah. Pokoknya bangunan ini lebih banyak anehnya daripada keindahannya, dan kami duga “Bangunan ini salah satu model mematikan wisata di kawasan Dermaga Atsari Parapat”, Ujar Urupan dan Sigiro.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Simalungun Robert Pardede, yang juga pernah sebagai Camat Girsang Sipangan Bolon selama 8 tahun ini, juga mengkritisi tembok-tembok raksasa dan mengular yang menghalangi pemandangan ke Danau Toba.

Katanya Dermaga Atsari Danau Toba Parapat, tapi koq tak nampak dermaganya, bagaimana mungkin wisatawan tau ada dermaga dibawah tembok sana, Ujar Robert.
Panjang tembok berlapis inipun aneh, kog bisa sampai setinggi 2-6 meter, kenapa tidak pakai bentuk kaca atau fiberglass yang tebal, sehingga pemandangan ke Danau Toba dan lokasi Dermaga bisa tampak jelas dari atas, Ujarnya.
Jadi karena ini sudah menghalangi view Danau Toba maka diminta direkontruksi ulang, jangan sampai mematikan objek wisata di kota Parapat ini, karena mengahalangi pandangan view Danau Toba juga dari jalan umum dan wisatawan yang menginap di Atsari Hotel.
“Kita tidak dapat melihat keindahan Danau Toba dari tepi jalan karena Tembok bangunan Dermaga Atsari terlampau tinggi, selayaknya pengunjung harus bebas melihat pemandangan Danau Toba dari jalan maupun dari sekitar dermaga tersebut,” ujar Robert.
Pardede menyayangkan pembangunan proyek gagal Dermaga Atsari tersebut, karena tidak mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Danau Toba wilayah Parapat.

“Kita melihat Dermaga Atasari sepi pengunjung, tampak tidak terurus, beberapa kios Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) juga tidak berpenghuni serta kapal-kapal tradisional pun enggan berlabu di dermaga itu, dan sebahagian lagi hanya tempat penambatan (pengikat) kapal yang tak berlayar”, Ujar Robert.
Pardede berharap pemerintah pusat kembali merekontruksi ulang Dermaga Atsari karena, selain dinding tembok yang tinggi hingga menghalangi pemandangan ke Danau Toba, juga teras bangunan memakan badan jalan sehingga mempersempit jalan lintas satuarah itu dan dilokasi ini kerap membuat kemacetan arus lalulintas di Parapat.
Terpisah, salah seorang Pengelola Kios UMKM Dermaga Atsari, A Sembiring mendukung rekontruksi ulang Dermaga Atsari karena dinilai tidak dapat menarik kunjungan wisatawan.”
Semenjak Dermaga Atsari selesai dibangun dua tahun silam Kios UMKM tidak pernah dimanfaatkan karena pengunjung dermaga tersebut sepi terus dan tidak ada pembeli,” katanya.

Dia menilai pembangunan Dermaga Atsari belum dapat memberikan multi efek ekonomi ke para pedagang sekitar dermaga. “Kios tidak pernah kita buka karena tidak ada pembeli. Dermaga selayaknya didesain ulang, dan jika perlu mohon di audit ulang,” pungkasnya.
Saat hal ini hendak dikonfirmasi kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Maka Ketaren di kantor yang selama ini jadi basis perkantoran PUPR di Parapat, ternyata kantor yang berlokasi di RTP Parapat, dekat kantor Koramil 11 Parapat ini sudah jarang buka.
•jessihotang.












